BUDI PEKERTI DIHIDUPKAN DAN MENJADI TEMA BESAR DALAM SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

 

DEWASA ini, pendidikan budi pekerti di sekolah banyak dibicarakan kembali dalam konteks pembangunan (kembali) moral bangsa. Sedemikian gencarnya pembicaraan tentang topik ini, sehingga pada sebagian orang ada anggapan seakan-akan budi pekerti sebagai sesuatu yang baru. Padahal tidak!

Ulasan ini mencoba melihat budi pekerti dalam perspektif historis berdasarkan apa yang tertulis dalam kurikulum nasional sejak Indonesia merdeka. Tinjauan seperti ini perlu untuk mengetahui apa sesungguhnya yang telah terjadi supaya kita tak mudah terjebak dengan label atau “sok baru”.

Budi pekerti, PPKn, imtak

Sebagai suatu materi pendidikan maupun sebuah mata pelajaran, (pendidikan budi pekerti timbul tenggelam dalam kurikulum pendidikan nasional di Indonesia. Ada saatnya budi pekerti tampil sebagai mata pelajaran yang dominan dalam kurikulum, kemudian disatukan dengan mata pelajaran lain, lalu terpisah lagi.

Pada saat materi budi pekerti diintegrasikan atau disisipkan ke dalam mata pelajaran lain, maka mata pelajaran yang mendapatkan titipan itu adalah yang paling dekat dengan sifat, karakter, atau misi mata pelajaran ini, yaitu Pendidikan Agama, Pendidikan Moral Pancasila, dan Pendidikan Kewarganegaraan.

Perubahan-perubahan ini mencerminkan pandangan bangsa ini terhadap arti pendidikan budi pekerti, dan sekaligus merefleksikan terjadinya pergulatan pemikiran yang berlangsung sejak Indonesia merdeka hingga saat ini. Hal tersebut juga menggambarkan perubahan kepedulian bangsa ini terhadap pendidikan yang bernuansa etika-moral yang diwakili oleh struktur kurikulumnya.

Arena pendidikan nasional juga diwarnai dengan munculnya tema-tema atau idiom-idiom lain yang lebih menonjol atau ditonjolkan. Mulai akhir 1960-an dengan berlakunya Kurikulum 1968 hingga pertengahan tahun 1980-an, tema-tema yang bernuansa (moral) Pancasila sangat mendominasi, seiring dengan kuatnya kepedulian (bangsa ini, atau pemerintah yang berkuasa) terhadap upaya menjabarkan dan mensosialisasikan nilai-nilai Pancasila ke dalam segenap kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pendidikan budi pekerti dan pendidikan agama pada saat itu dapat dikatakan “terpinggirkan” oleh haru-biru semangat pendidikan Pancasila.

Memasuki pertengahan tahun 1980-an hingga akhir 1990-an, sejalan dengan warna keagamaan sangat mendominasi sistem pendidikan nasional, pendidikan budi pekerti seakan-akan hilang — kecuali hanya tercantum dalam satu-satu ciri manusia Indonesia seutuhnya dalam tujuan pendidikan nasional.

Giliran tema-tema “keimanan dan ketakwaan” (imtak) mendominasi pendidikan nasional yang sekaligus mencerminkan terjadinya “titik balik” dalam kehidupan masyarakat Indonesia ke arah yang lebih religius (Supriadi, 1996), setelah sekian lama melalui babak pendidikan yang cenderung sekuler dan bernuansa “budaya abangan” (meminjam Clifford Geertz) model budaya Jawa pada puncak zaman keemasan Orde Baru.

Bila dilukiskan dalam sebuah kurva normal, kurun waktu mulai pertengahan tahun 1970-an hingga pertengahan 1980-an merupakan puncak kejayaan Orde Baru. Kurun waktu sebelumnya adalah saat Orde Baru membangun landasannya dengan berbasis nasionalisme-sekuler (meskipun tidak pernah dinyatakan secara eksplisit) dan dengan doktrin “pembangunan nasional”.

Mulai pertengahan 1980-an, kurva perkembangan Orde Baru mulai menurun, justru pada saat kekuasaannya semakin besar sehingga sulit dikendalikan, yang kemudian berakhir pada Mei 1998. Yang menarik adalah, pada saat mulai menurun itulah, justru ada keinginan untuk memberikan perhatian yang kuat pada tema-tema keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Bagaimanapun, perkembangan ini dapat memberikan konteks terhadap kajian isi kurikulum pendidikan.

Era Orde Baru berakhir, dan muncul Era Reformasi. Era ini menyaksikan sosok bangsa ini yang lunglai, terkapar dalam ketidakberdayaan akibat berbagai krisis yang dialaminya. Bangsa ini berusaha mencari kembali akar budayanya, nilai-nilai dasarnya, basic and core values-nya. Maka bertemulah dengan sebuah nama, sebuah kekayaan, sebuah “harta karun” yang dianggap sebagai bagian inti dari budaya bangsa. Pada saat MPR-RI bersidang menyusul ambruknya rezim Orde Baru, mulai berkembang wacana yang kemudian semakin mengental untuk mengangkat (kembali) “harta karun” itu yang diberi nama “budi pekerti”.

Sejak saat itulah, kembali pendidikan budi pekerti dihidupkan dan menjadi tema besar dalam sistem pendidikan nasional hingga saat ini yang mendapatkan tekanan kuat dalam GBHN. Siapa yang seharusnya memainkan peran penting dalam pendidikan budi pekerti?

Seperti lazimnya, orang segera melirik kurikulum pendidikan nasional — yang ternyata sejak tahun 1975 tidak lagi secara khusus mencantumkan budi pekerti. Dengan semangat yang menyala-nyala, ibarat ingin menebus “kekeliruan” di masa lalu — mungkin juga disertai rasa bersalah (guilty feeling) — maka bangsa ini segera menunjuk kurikulum pendidikan sebagai sarana yang efektif untuk mengembangkan budi pekerti.

Budi pekerti sebagai primadona

Sekarang, hingar-bingar pendidikan budi pekerti mengalahkan pendidikan “keimanan dan ketakwaan”, apalagi pendidikan moral Pancasila yang dari segi “judul”-nya telah dikubur sejak Kurikulum 1994. Bahkan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang populer sekarang — yang “menggantikan” Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), dan yang terakhir ini pun sebelumnya “mengambil-alih” dominasi Pendidikan Moral Pancasila (PMP) menurut Kurikulum 1975 — dititipi untuk secara kental bermuatan pendidikan budi pekerti.

Mulai ada gelagat, pendidikan “keimanan dan ketakwaan” yang populer selama 10 tahun terakhir tergeser popularitasnya oleh pendidikan budi pekerti.

Indikator yang sederhana namun cukup terandal untuk melihat perubahan tersebut adalah dalam nama proyek. Di Depdiknas, misalnya, sekarang pendidikan imtak menempel pada proyek pendidikan budi pekerti, sedangkan di masa sebelumnya merupakan bagian dari proyek PPKn. Begitulah, ibarat hingar-bingar panggung politik sekarang yang enak dipandang tapi menyesakkan, kurikulum pendidikan mengikuti ke mana orientasi bangsa ini condong. Benar bila dikatakan bahwa pada dasarnya pendidikan tidak bisa dilepaskan dari politik (Beeby, 1980), dan bahwa dalam setiap kebijakan pendidikan selalu termuat kepentingan-kepentingan politik (Fiske, 1996).

Tentu tidak perlu disebutkan secara detail di sini tentang bagaimana bangsa ini ibarat kebakaran janggut ketika dalam waktu yang singkat harus merevisi kurikulum pendidikan Sejarah pada awal Era Reformasi dengan membuang bagian-bagian yang dianggap “tidak objektif” tentang Serangan Umum 1 Maret yang menempatkan peran Overste Soeharto begitu rupa kuatnya, kemudian mendudukkan kembali peran Sultan Yogya sebagai inisiator dan inspirator serangan fajar itu. Atau juga revisi terhadap muatan PPKn melalui puluhan butir-butirnya karena dianggap terlalu berlebihan menurut kacamata sekarang, padahal di masa lalu menjadi acuan yang tidak bisa ditawar-tawar, bahkan menurut sebagian orang, cenderung “diberhalakan”.

Yang masih bebas dari pengaruh politik tinggallah aksioma luas sudut segitiga sama sisi, luas lingkaran, atau 2 + 2 dalam sistem desimal adalah 4 (atau yang ini pun masih bisa dinegosiasikan?)

Kembali ke pendidikan budi pekerti menurut pemahaman yang muncul kembali saat ini. Tampaknya, karena ada perasaan “tidak tega” untuk sekaligus menafikan “tema-tema lama”, atau mungkin mencerminkan semakin luasnya spektrum tantangan yang kita hadapi saat ini, atau bisa juga merefleksikan sikap ambivalen kita sendiri, dewasa ini tema pendidikan budi pekerti dimunculkan bersamaan dengan tetap dipertahankannya tema-tema yang berkembang selama ini. Misalnya, pendidikan agama sebagaimana berlaku sebelumnya, pendidikan keimanan dan ketakwaan yang melekat pada materi pendidikan umum (non-pendidikan agama), dan pendidikan kewarganegaraan (baik dalam pengertian civic education maupun citizenship education) yang semakin luas cakupannya dengan dimasukkannya pendidikan hak asasi manusia dan pendidikan internasional.

Perbedaannya adalah tema-tema pendidikan tersebut diminta untuk dimuati secara kental oleh pendidikan budi pekerti, yang berarti bahwa dewasa ini pendidikan budi pekerti itulah yang menjadi primadonanya.

Memang di antara tema-tema pendidikan tersebut tidak ada pertentangan, bahkan saling berhimpitan. Namun peletakan prioritas pada pendidikan budi pekerti sehingga seakan-akan mengatasi yang lainnya mencerminkan terjadinya perubahan orientasi pendidikan nasional pada segi pembinaan sikap, etika, dan moral bangsa yang majemuk ini. Sekarang, marilah kita lihat apa yang nyata tertulis dalam kurikulum per jenjang pendidikan.

Budi pekerti dalam kurikulum SD

Pendidikan budi pekerti pertama kali diperkenalkan dalam Kurikulum 1947 sebagai salah satu dari 16 mata pelajaran di SD yang berdiri sendiri dan terpisah dari Pendidikan Agama. Jumlah jam pelajarannya meningkat seiring dengan meningkatnya kelas, masing-masing untuk kelas I-VI adalah 1-1-2-2-2-3 jam per minggu.

Pendidikan Agama yang diputuskan melalui Ketetapan Bersama Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan dan Menteri Agama malah baru dimulai sejak kelas IV SD reguler masing-masing 2 jam per minggu. Bahkan di SD yang diselenggarakan sore hari, Pendidikan Agama baru diberikan di kelas V-VI masing-masing dengan 2 jam.

Hal ini menunjukkan bahwa pada saat itu, pendidikan budi pekerti mendapatkan perhatian yang lebih besar (artinya dianggap lebih penting) daripada pendidikan agama. Isi pendidikan budi pekerti saat itu lebih banyak berupa sopan santun, etika, sikap hormat dan saling menghargai — dalam arti berdasarkan acuan-acuan nilai budaya — dalam pergaulan sehari-hari dalam masyarakat, keluarga, dan sekolah.

Pada tahun 1964, Kurikulum SD 1947 diubah dengan Kurikulum Sekolah Rakyat (SR). Dalam kurikulum ini, pendidikan budi yang semula terpisah dari pendidikan agama, disatukan dalam mata pelajaran yang disebut “Agama/Budi Pekerti”. Mata pelajaran ini berada dalam kelompok Perkembangan Moral bersama Pendidikan Kemasyarakatan yang merupakan gabungan dari Sejarah, Ilmu Bumi, dan Kewarganegaraan. Jumlah jam pelajarannya lebih sedikit lagi (artinya terjadi penciutan materi) dibandingkan dengan pada kurikulum sebelumnya, masing-masing untuk kelas I-VI adalah 1-2-2-2-2-2 jam pelajaran per minggu. Dalam pola ini, pendidikan budi pekerti “dititipkan” ke dalam pendidikan agama.

Pada pertengahan tahun 1960-an, saat kurikulum 1964 baru berjalan setahun, situasi politik berubah menyusul terjadinya G-30 S/PKI, dan arah pendidikan pun ikut berubah. Namun baru tiga tahun kemudian berhasil disusun kurikulum baru, yaitu Kurikulum 1968.

Salah satu prinsip yang melandasi kurikulum SD ini ialah bahwa dasar pendidikan nasional adalah falsafah Pancasila, tujuan pendidikan nasional adalah membentuk manusia Pancasila sejati, dan isi pendidikan terdiri atas tiga hal, yaitu mempertinggi mental budi pekerti dan memperkuat keyakinan agama, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta membina fisik yang kuat dan sehat.

Karakteristik yang menonjol dalam kurikulum ini ialah munculnya kelompok Pembinaan Jiwa Pancasila sebagai komponen yang dominan yang meliputi Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Bahasa Daerah, dan Pendidikan Olahraga.

alam Kurikulum SD 1968, pendidikan budi pekerti tidak lagi muncul sebagai sebuah nama mata pelajaran, baik berdiri sendiri maupun digandengkan dengan pendidikan agama seperti pada kurikulum sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi pergeseran orientasi pendidikan dengan mengangkat secara kuat Pendidikan Pancasila yang bahkan “membawahi” mata pelajaran Pendidikan Agama. Jumlah jam Pendidikan Agama itu sendiri cukup banyak, yaitu 2-2-3-4-4-4 di kelas I-VI SD, sama seperti Pendidikan Kewarganegaraan. Pergeseran ini sangat dapat dimaklumi, mengingat semangat Orde Baru ketika pertama kali naik ke panggung kekuasaan adalah “melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen”

SETIMAN

6 bulan telah berlalu, semua rasa sudah pernah kita lalui bersama, terik,panas,hujan,,,, semua tinggal kenangan, suka duka dijalani bersama. Jerit tangis canda dan tawa mewarnai hari-hari kita,,, ulangan remidi nyontek bahkan sudah menjadi sebuah tradisi dalam kebersamaan kita,,,,,,

Kini semua tinggal kenangan, semua rasa yang pernah kita lalui hanya terasa dalam kenangan,,,,,, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, dan bahkan hari demi hari tak terasa kian berlalu,,,,,

Namamu tak kan terhapus di dalam hatiku, di telinga ku hanya sebuah nama yang slalu terdengar, sebuah nama yang tak akan pernah terlupakan,,,,”SETIMAN”,,,,,,,,,, sebuah nama kebanggaan dari semua murid kelas x3,,,,

Sangat banyak perbedaan dari kita tapi entah kenapa semua bisa bersama dalam keceriaan,,,, SETIMAN sebuah kelas yang semua karakter anaknya berbeda,

Saya berpesan kepada teman-teman semua, jangan pernah lupakan kebersamaan yang kita pernah lalui, jadikan kenangan ini adalah kenangan terindah,,,, jangan pernah lupakan semua sifat teman-teman kita,,, mulai dari yang lucu, jail, jerit tangis bahkan tangis yang pernah terukir bersama,,,,

Maafkan semua salah saya baik yang sengaja maupun yang tak sengaja,,, semua kejailan saya, teriakan saya,,,,,,,

Saya tak akan melupakan kalian semua,,,,,

Jangan pernah lupakan semua teman-teman kita,,,

Jangan lupain waktu sasmitha waktu sering dperhatiin sama guru biology(jangan marah ya sasmitha), waktu D.A tiba* menangis karena patah hati, jangan perna lupain oktaviana wktu dapet bhs jpang dipanggil sangayusang, jangan lupain cara ngomongmya luh tu yang lelet,,,, jangan lupain DP sering ngomel*, jangan lupain jamika n yoni yang paling jarang bersam kita wktu kita lagi rebut, jangan lupain ross wktu dia ktawa kyak kuda, jangan lupain uty lagi gnomon, jangn lupain wktu mang ayu hamper kpleset di kelas, jangan lupain wktu ika seringmleset*in kata*, janagn lupain dayu sri yang sering keluar klo ada guru gara* dpanggil teman’a, jangan lupain mira yang sering berduaanddpan sam wirawan, jangan lupain tita yang smpet mrang gara* nyuruh kita bayar uang buku, jangan lupain somyy wktu marah* pas lagyy ngumumin ssuatu,

Pokoknya banyak dech,,
love you SETIMAN :*

ciptaan tuhan

TUHAN MENCIPTAKAN SEMUA YANG ADA DI DUNIA INI SUDAH MEMPUNYAI TUGASNYA MASING-MASING………

SEPERTI: BINTANG, MATAHARI, AIR,  BATU KARANG, A MAUPUN KAMU,,,,,

BINTANG TUGASNYA MENEMANI BULAN DI MALAM HARI TUK MENERANGI HATIMU,,,,

MATAHARI TUGASNYA MENYINARI WAJAHMU  DARI PAGI  HINGGA SAMPAI DI UJUNG BARAT

AIR TUGASNYA MEMBERIKAN KESEJUKAN UNTUK SEMUA MAKLUK YANG DICIPTAKAN TUHAN,, MULAI DARI SEKECIL PLANTON HINNGA SEBESAR GAJAH,,,,,,,,

BATU KARANG TUGASNYA MELINDUNGI IKAN-IKAN KECIL YANG KESEPIAN,,,,

AKU MEMPUNYAI TUGAS KHUSUS YANG DIBERIKAN OLEH TUHAN YAITU TERUS MENJAGA DIRIMU AGAR TETAP DI HATIKU,,,,,,,,, INI ADALAH TUGAS YANG PALING TERINDAH BAGIKU,,,

SEDANGKAN TUGASMU ADALAH MENERIMA KASIH SAYANG YANG TULUS DARI KU,,,,,,

KU INGIN SEPERTI BINTANG MENEMANI DAN MENERANGI HATIMU DI SAAT KEGELAPAN,,,

KU INGIN SEPERTI MATAHARI MENAMBAH KEGEMBIRAANMU DI ATAS TERANGNYA KASIH SAYANG KU,

KU INGIN SEPERTI AIR, MENEMANIMU DALAM KEHAUSAN, MENYEJUKAN HATI MU DAN MEMBERIKAN KASIH SAYANG SEPERTI AIR, BIARPUN DITEBAS DENGAN PEDANG TAK AKAN PERNAH PUTUS,

KU INGIN SEPERTI BATU KARANG YANG SENANTIASA MELINDUNGIMU, YANG TAK AKAN PERNAH PUPUS WALAU BADAI MENGANTAM, TAK KAN MENYERAH WALAUPUN BINTANG TAK ADA, TAK KAN PERNAH KEPANASAN WALAU TERIK MATAHARI TERUS MENINARI, TAK KAN PERNAH HANYUT WALAU DERASNYA AIR MENGHANTAM,,,,

 

KARYA;

                                                                                                                

                                                                      NAMA; NI WAYAN SOMYANTARI

dirimu

‘Sendri deh’. Gumam Ivy smbil berjalan sendirian di taman. Memang jodoh tidak kemana dan hati tetap memegang rasa. Tanpa sengaja Ivy menabrak orang yg sedang berjalan. Alhasil ternyata otang itu adalah Rama.

         ‘Ivy…!!!’. Rama terkejut.

‘lho??, kak Rama ngapaen disini.

‘kk Cuma iseng aja jalan-jalan sendiri, nah sedangkan km ngapaen disini sendiri? Mana Putra?’

‘udah nggak usah sebut namanya lagi, bikin mood ku hancur aja’.

         ‘km putus????’.

‘nggak kami Cuma break ja sementara waktu.’

‘berarti kamu sendiri sekarang kan? Kalo gitu gimana kalo kita jalan. Kk juga lagi boring nii malming nggak ada temen’.

‘boleh, emang mau kemana?’

‘Udah.. ikut aja’. Kata Rama sambil menarik tangan Ivy.

         30 menit kemudian akhirnya mereka sampai. Ternyata Rama mengajak Ivy ke taman bermain.

Disana Rama berusaha menghibur Ivy yg sedang menggalau. Rama mengajak Ivy bersenang-senang malam itu. Mencoba berbagai permainan. Dan menghadiahkan sebuah boneka lucu yg dia dapatkan ketika memenangkan sebuah permainan. Disana senyum Ivy pun mulai tampak seperti biasanya, yg sangat bersemangat.

         Entah kenapa Rama sangat senang jika melihat Ivy begitu bahagia.

Setelah lelah seharian bermain dan bersenang-senang.                 Rama membawa Ivy ke bukit yg sangat indah dengan pemandangan lampu malam yg begitu mempesona, sembari beristirahat sejenak. Continue reading “dirimu”

Aku Bukan Untuk Mu

“Re……tunggu donk!” kata Vira, “Eh……..kayak ada yg manggil aku siapa ya???”kata Renata lalu dia pun melihat ke belakang. “Oh….ternyata kamu Vir! Kenapa?”, “Ah nggak Cuma pengen masuk kls bareng aja! Biar ada temen!”. “Oh….tapi anterin ke perpus dulu ya!”. “Ok yuks….”. dan mereka pun pergi ke perpustakaan. Setelah beberapa saat mereka mencari buku di perpus mereka pun masuk kelas. Continue reading “Aku Bukan Untuk Mu”

cerita haruka

Hai namaku Haruka aku dari keluarga Rolland , keluarga yg sangat terkenal dan , ah sudah itu nggak penting , yg penting sekarang aku harus sampai di sekolah secepatnya . Tiba2 ada seorang anak cowok lewat di samping Haruka “Hai duluan ya..” , “Ih siapa sih cowok itu ? dia dapat mendahuluiku aku harus berlari lebih cepat” lalu Haruka pun berlari lebih cepat sampai menyeimbangi cowok itu , sesampainya di depan sekolah Haruka kelelahan dan hamper terjatuh tapi cowok itu langsung menangkap Haruka “Kamu tidak apa2?” katanya , “Em…aku tidak apa2 , terima kasih!” kata Haruka dgn nada tinggi , “Oh ia perkenalkan namaku Riku! ,  kalau namamu siapa?” , “Nggak penting!” kata Haruka jutek , dan Haruka langsung masuk kls . Tet…….tet….bel pulang sekolah pun berbunyi lalu Haruka pulang bersama Zora , dlm perjaanan pulang Zora bertanya pd Haruka  “Ruka kenapa hari ini kamu suntuk banget?” , “Em ia , gara2 tadi pagi aku bertemu seorang cowok waktu dlm perjalanan ke sekolah , waktu itu cowok itu mendahuluiku dlm berlari karma itu aku betek!” kata Haruka dgn kesal , Continue reading “cerita haruka”

TAMPANG VS OTAK

Aku Niken banyak yang bilang kalo aku gak bisa serius pacaran.Gara-gara aku sering gonta-ganti pacar.Habis gimana donk lok udah liat cowok ganteng and tajir aku jadi lupa daratan.Tapi jangan salahin aku siapa suruh mereka mau sama aku.Yang tajir bisa diporotin dikit trus yang ganteng bisa di pamerin sama temen-temen. He….he…he. Emag agak jahat tapi gak apa semasih bisa ngapain nyianyiain kesempatan.
Ken..Niken bangun dong sekarang kamu sekolah kan?Teriak Ibu sambil menggedor pintu.Iya buk udah bangun kok.Ya udah cepetan doung Agung udah nunggu.Iya sabar.Niken pun bersiap untuk berangkat.Hei gung udah lama?Gak kok.Yuk berangkat sekarang!.Loh Ken gak sarapan dulu?.Gak usah buk tar di sekolah aja.Ya udah Niken berangkat ya.Nah yang ini Agung dia pacar pertama aku tampangnya biasa aja tapi tajirnya itu duh gak ketulungan.Agung ini anak kuliahan jadi kebanyakan sibuknya.Ken nanti pulang sekolah kita jalan yuk!Boleh emangnya mau jalan kemana? Ada deh pokoknya tempatnya asik.Gung nganternya sampe sini aja.Iya tau udah biasa kan.Ya udah sekolah yang bener sayang.Iya Daa.Huhhhh hari ni juga lancar.Aku minta anter sampi sini gara-gara aku punya pacar lain di sekolah.Untung agung percaya waktu aku bilang back streat sama temen-temen. Continue reading “TAMPANG VS OTAK”

Bali Diserbu Pendatang

Belakangan ini Bali banyak diserbu pendatang. Sehingga menyebabkan Bali dipenuhi oleh penduduk, dibandingkan tahun 70-80an, kini Bali semakin sesak. Banyaknya pendatang dari luar daerah mengakibatkan Bali terus berkembang menjadi pulau metropolis. Dan mengakibatkan tingkat keamanan di Bali menurun drastis.

Desa adat di Bali di daerah perkotaanpun, harus diakui sejak tahun 90an juga mulai kehilangan kemampuan deteksi dan identifikasi terhadap masuknya pendatang. Di balik banyaknya pertambahan penduduk di Bali. Hal ini menimbulkan banyak akibat. Salah satunya infratruktur kebutuhan ruang dan bahan pangan tidak tersedia secara matang. Karena banyak lahan pertanian telah dialih fungsikan, menjadi pemukiman, penginapan dan lain sebagainya. Continue reading “Bali Diserbu Pendatang”

Melihat Karya Seni Bukan hanya dengan Logika

Banyak seniman Bali yang karya-karyanya kurang di hargai dengan pantas, saat ini. Orang–orang kebanyakan menilai seni dari nominal dan logika. Mereka senantiasa lebih memikirkan untung dan rugi, untuk melihat suatu karya seni. Padahal karya seni itu tidak hanya dilihat sekilas saja.Namun seni itu dilihat dan diresapi makna serta keindahanya. Banyak orang yang mengabaikan hal ini, sehingga banyak seniman yang merasa kecewa dan terkesan diabaikan.

Beberapa fakor yang menyebabkan kurangnya peminat seni adalah karena, di zaman modern seperti sekarang orang-orang enggan mengamati seni secara mendalam. Mereka hanya memandang karya seni dari sebelah mata. Para peminat seni pun kebanyakan hanya menilai seni dengan logika mereka bukan dari segi keindahannya. Continue reading “Melihat Karya Seni Bukan hanya dengan Logika”

Ledakan Penduduk Pengaruhi segala Aspek

Pertumbuhan penduduk yang belakangan ini sangat pesat, menimbulkan kekawatiran untuk beberapa tahun kedepan. Dinamika ledakan populasi penduduk menimbulkan berbagai persoalan dalam segala aspek. Tidak hanya dalam aspek ekonomi, namun di dalam aspek sosial budaya serta adat istiadat juga sangat dipengaruhi.

Pertumbuhan yang sangat pesat atau ledakan penduduk, dapat menimbulkan persoalan yang cukup serius dalam aspek ekonomi. Padatnya penduduk di suatu daerah akan menuntut perlunya banyak bahan pangan untuk kebutuhan setiap orang. Sedangkan saat ini banyak lahan-lahan penghasil padi, telah dialih fungsikan menjadi pemukiman warga.

Untuk mengatasi hal ini pemerintah harus lebih menggalakan penciptaan lahan baru untuk daerah yang layak dan potensial. Namun hal ini tidak sepenuhnya dapat diharapkan karena adanya kendala sosial, teknis dan biaya. Solusi lainnya adalah pemanfaatan lahan kering semaksimal mungkin.

Ledakan penduduk dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu, banyaknya orang yang menikah dalam usia muda. Adanya anggapan bahwa banyak anak banyak rezeki. Ledakan penduduk akan menimbulkan dampak seperti, jumlah pengangguran akan semakin meningkat. Kerurangan pangan yang akan menyebabkan kelaparan. Akan semakin sulit memperoleh pendidikan dan kesehatan dengan layak. Dapat menyebabkan tingginya polusi dan kerusakan lingkungan. Serta tingginya angka kemiskinan dan tingkat kejahatan.

Hal ini dapat diatasi dengan program pengendalian penduduk yang disertai program pendukung seperti layanan sosial, kesehatan dan pendidikan harus menjadi prioritas. Melakukan penyuluhan kepada masyarakat untuk melaksanakan program KB. Membuka lapangan kerja melalui industri atau yang lainnya. Sebisa mungkin meningkatkan produksi pangan sesuai kebutuhan penduduk. Dan melakukan transmigrasi.