Beralih ke Pasar Modrn, Pasar Tradisional Semakin Sedikit

Pasar  tradisional saat ini keberadaannya sudah semakin sedikit. Kurangnya minat masyarakat untuk berbelanja ke pasar tradisional  menjadi salah satu faktor yang menyebabkan berkurangnya keberadaan pasar tradisional.

Kurangnya minat masyarakat untuk berbelanja ke pasar tradisional bukannya tanpa alasan, namun sedikitnya  minat masyarakat ke pasar tradisional dikarenakan kurangnya kebersihan dan kenyamanannya pasar. Pemandangan yang tidak nyaman ini sering kita lihat di pasar-pasar tradisional. Seperti tempat sampah yang terdapat di pasar tradisional, penetaannya belum sepenuhnya maksimal. Jarak anatara pedagang dengan tempat sampah terlalu dekat, sehingga bau dari sampah akan tercium hingga ke tempat pedagang.

Belum halnya ketika hujan, karena kebanyakan para pedagang menjajakan barang dagangannya di bawah hanya dengan menggunakan alas tanpa menggunakan atap atau penutup. Sehingga pada saat hujan keadaan pasar akan becek dan kotor. Tentunya hal ini akan menyebabkan kurang bersihnya barang yang dijajakan di pasaran.

Masalah kebersihan sampah ini, tidak hanya menjadi tanggung jawab dari satu pihak saja. Namun masalah ini perlu kerja sama dari semua pihak. Seperti kesadaran dari para pedangang maupun pembeli yang bersama-sama ikut menjaga kebersihan pasar. Mulai dari tindakan yang kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya. Jika semua pedagang maupun pembeli sadar akan kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya tentu saja masalah sampah di pasar tidak akan menjadi masalah yang serius. Disamping kesadaran masyarakat juga diperlukan dukungan dari pemerintah desa setempat. Seperti menyediakan mobil-mobil pengangkut sampah, membangun tempat sampah yang jauh dari tempat jual beli dll. Tentu saja dukungan dari pemerintah ini sangat bermamfaat bagi pengguna pasar tradisional.

Seperti yang kita ketahui, di pasar tradisional kebanyakan para pedagang berasal dari keluarga yang ekonominya menengah kebawah. Mereka hanya mengandalkan hasil dari berjualan di pasar. Jika semakin hari pasar tradisional semakin sepi maka nasib pedagang kecil di pasar tradisional akan terancam tidak dapat berjualan di pasar tradisional lagi. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu pedagang kecil di pasar tradisional ini. Wanita yang akrab di panggil buk tut ini mengaku bahwa dirinya hanya mengandalkan hasil jualan di pasar untuk memenuhi kebutuhan sahari-hari. “ jika pasar sedang sepi, saya harus menghemat pengeluaran,” ujarnya.

 

 

kesenian

Beralih ke Budaya Modern

Kesenian di Keramas Semakin Pudar

di ambil dari berbagai sumber

Keramas, bukan hanya terkenal dengan batu bata dan batu cadasnya  saja, tetapi desa Keramas juga terkenal dengan keseniannya. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya seniman-seniman tua dulu yang mampu membawa nama Keramas hingga ke luar kota Gianyar. Kesenian yang paling terkenal dari desa Keramas yaitu seni arjanya. Salah satu tokoh yang terkenal di Keramas adalah I Nyoman Monjong(alm) yang dulu sebagai pelatih arja di Keramas. Hampir di setiap banjar di Keramas mempunyai kelompok arja dan setiap odalan ada pertunjukan arja. Arja di Keramas dulu di pentaskan di wantilan pura-pura dengan hanya menggunakan panggung yang sederhana. Hingga lama-kelamaan pementasan seni arja berkembang ke yang lebih modern. “ Dulu pementasan arja popular di desa-desa karena sedikitnya hiburan yang ada,” kata seorang kakek yang bernama lengkap I Made Tegug. Kakek yang berumur 70an itu adalah anak dari salah satu pemain arja di keramas yang bernama I Made Regeg(alm).

Kapan Arja Keramas mulai digerakkan, tak ada satu pun ditemukan catatan pasti mengenai hal tersebut. Hal ini pun diakui oleh seniman yang sekaligus merupakan tokoh  masyarakat I Gusti Agung Wiyat S.Ardhi. Menurutnya, seni arja di Keramas pertama kali dibangun oleh I Gusti Agung Pakang Raras atau yang sering disebut sebagai I Gusti Agung Pajenengan, sekitar tahun 1910. Seiring dengan perjalanan waktu, Arja Keramas mulai tersohor sejak dalam binaan I Gusti Agung Putu Gelgel yang merupakan menantu dari I Gusti Agung Pakang Raras. Berkembangnya desa Keramas sebagai desa seni tidaklah hal yang gampang, tetapi membutuhkan perjuangan dan proses yang cukup panjang. Continue reading “kesenian”