BUDI PEKERTI DIHIDUPKAN DAN MENJADI TEMA BESAR DALAM SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

 

DEWASA ini, pendidikan budi pekerti di sekolah banyak dibicarakan kembali dalam konteks pembangunan (kembali) moral bangsa. Sedemikian gencarnya pembicaraan tentang topik ini, sehingga pada sebagian orang ada anggapan seakan-akan budi pekerti sebagai sesuatu yang baru. Padahal tidak!

Ulasan ini mencoba melihat budi pekerti dalam perspektif historis berdasarkan apa yang tertulis dalam kurikulum nasional sejak Indonesia merdeka. Tinjauan seperti ini perlu untuk mengetahui apa sesungguhnya yang telah terjadi supaya kita tak mudah terjebak dengan label atau “sok baru”.

Budi pekerti, PPKn, imtak

Sebagai suatu materi pendidikan maupun sebuah mata pelajaran, (pendidikan budi pekerti timbul tenggelam dalam kurikulum pendidikan nasional di Indonesia. Ada saatnya budi pekerti tampil sebagai mata pelajaran yang dominan dalam kurikulum, kemudian disatukan dengan mata pelajaran lain, lalu terpisah lagi.

Pada saat materi budi pekerti diintegrasikan atau disisipkan ke dalam mata pelajaran lain, maka mata pelajaran yang mendapatkan titipan itu adalah yang paling dekat dengan sifat, karakter, atau misi mata pelajaran ini, yaitu Pendidikan Agama, Pendidikan Moral Pancasila, dan Pendidikan Kewarganegaraan.

Perubahan-perubahan ini mencerminkan pandangan bangsa ini terhadap arti pendidikan budi pekerti, dan sekaligus merefleksikan terjadinya pergulatan pemikiran yang berlangsung sejak Indonesia merdeka hingga saat ini. Hal tersebut juga menggambarkan perubahan kepedulian bangsa ini terhadap pendidikan yang bernuansa etika-moral yang diwakili oleh struktur kurikulumnya.

Arena pendidikan nasional juga diwarnai dengan munculnya tema-tema atau idiom-idiom lain yang lebih menonjol atau ditonjolkan. Mulai akhir 1960-an dengan berlakunya Kurikulum 1968 hingga pertengahan tahun 1980-an, tema-tema yang bernuansa (moral) Pancasila sangat mendominasi, seiring dengan kuatnya kepedulian (bangsa ini, atau pemerintah yang berkuasa) terhadap upaya menjabarkan dan mensosialisasikan nilai-nilai Pancasila ke dalam segenap kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pendidikan budi pekerti dan pendidikan agama pada saat itu dapat dikatakan “terpinggirkan” oleh haru-biru semangat pendidikan Pancasila.

Memasuki pertengahan tahun 1980-an hingga akhir 1990-an, sejalan dengan warna keagamaan sangat mendominasi sistem pendidikan nasional, pendidikan budi pekerti seakan-akan hilang — kecuali hanya tercantum dalam satu-satu ciri manusia Indonesia seutuhnya dalam tujuan pendidikan nasional.

Giliran tema-tema “keimanan dan ketakwaan” (imtak) mendominasi pendidikan nasional yang sekaligus mencerminkan terjadinya “titik balik” dalam kehidupan masyarakat Indonesia ke arah yang lebih religius (Supriadi, 1996), setelah sekian lama melalui babak pendidikan yang cenderung sekuler dan bernuansa “budaya abangan” (meminjam Clifford Geertz) model budaya Jawa pada puncak zaman keemasan Orde Baru.

Bila dilukiskan dalam sebuah kurva normal, kurun waktu mulai pertengahan tahun 1970-an hingga pertengahan 1980-an merupakan puncak kejayaan Orde Baru. Kurun waktu sebelumnya adalah saat Orde Baru membangun landasannya dengan berbasis nasionalisme-sekuler (meskipun tidak pernah dinyatakan secara eksplisit) dan dengan doktrin “pembangunan nasional”.

Mulai pertengahan 1980-an, kurva perkembangan Orde Baru mulai menurun, justru pada saat kekuasaannya semakin besar sehingga sulit dikendalikan, yang kemudian berakhir pada Mei 1998. Yang menarik adalah, pada saat mulai menurun itulah, justru ada keinginan untuk memberikan perhatian yang kuat pada tema-tema keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Bagaimanapun, perkembangan ini dapat memberikan konteks terhadap kajian isi kurikulum pendidikan.

Era Orde Baru berakhir, dan muncul Era Reformasi. Era ini menyaksikan sosok bangsa ini yang lunglai, terkapar dalam ketidakberdayaan akibat berbagai krisis yang dialaminya. Bangsa ini berusaha mencari kembali akar budayanya, nilai-nilai dasarnya, basic and core values-nya. Maka bertemulah dengan sebuah nama, sebuah kekayaan, sebuah “harta karun” yang dianggap sebagai bagian inti dari budaya bangsa. Pada saat MPR-RI bersidang menyusul ambruknya rezim Orde Baru, mulai berkembang wacana yang kemudian semakin mengental untuk mengangkat (kembali) “harta karun” itu yang diberi nama “budi pekerti”.

Sejak saat itulah, kembali pendidikan budi pekerti dihidupkan dan menjadi tema besar dalam sistem pendidikan nasional hingga saat ini yang mendapatkan tekanan kuat dalam GBHN. Siapa yang seharusnya memainkan peran penting dalam pendidikan budi pekerti?

Seperti lazimnya, orang segera melirik kurikulum pendidikan nasional — yang ternyata sejak tahun 1975 tidak lagi secara khusus mencantumkan budi pekerti. Dengan semangat yang menyala-nyala, ibarat ingin menebus “kekeliruan” di masa lalu — mungkin juga disertai rasa bersalah (guilty feeling) — maka bangsa ini segera menunjuk kurikulum pendidikan sebagai sarana yang efektif untuk mengembangkan budi pekerti.

Budi pekerti sebagai primadona

Sekarang, hingar-bingar pendidikan budi pekerti mengalahkan pendidikan “keimanan dan ketakwaan”, apalagi pendidikan moral Pancasila yang dari segi “judul”-nya telah dikubur sejak Kurikulum 1994. Bahkan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang populer sekarang — yang “menggantikan” Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), dan yang terakhir ini pun sebelumnya “mengambil-alih” dominasi Pendidikan Moral Pancasila (PMP) menurut Kurikulum 1975 — dititipi untuk secara kental bermuatan pendidikan budi pekerti.

Mulai ada gelagat, pendidikan “keimanan dan ketakwaan” yang populer selama 10 tahun terakhir tergeser popularitasnya oleh pendidikan budi pekerti.

Indikator yang sederhana namun cukup terandal untuk melihat perubahan tersebut adalah dalam nama proyek. Di Depdiknas, misalnya, sekarang pendidikan imtak menempel pada proyek pendidikan budi pekerti, sedangkan di masa sebelumnya merupakan bagian dari proyek PPKn. Begitulah, ibarat hingar-bingar panggung politik sekarang yang enak dipandang tapi menyesakkan, kurikulum pendidikan mengikuti ke mana orientasi bangsa ini condong. Benar bila dikatakan bahwa pada dasarnya pendidikan tidak bisa dilepaskan dari politik (Beeby, 1980), dan bahwa dalam setiap kebijakan pendidikan selalu termuat kepentingan-kepentingan politik (Fiske, 1996).

Tentu tidak perlu disebutkan secara detail di sini tentang bagaimana bangsa ini ibarat kebakaran janggut ketika dalam waktu yang singkat harus merevisi kurikulum pendidikan Sejarah pada awal Era Reformasi dengan membuang bagian-bagian yang dianggap “tidak objektif” tentang Serangan Umum 1 Maret yang menempatkan peran Overste Soeharto begitu rupa kuatnya, kemudian mendudukkan kembali peran Sultan Yogya sebagai inisiator dan inspirator serangan fajar itu. Atau juga revisi terhadap muatan PPKn melalui puluhan butir-butirnya karena dianggap terlalu berlebihan menurut kacamata sekarang, padahal di masa lalu menjadi acuan yang tidak bisa ditawar-tawar, bahkan menurut sebagian orang, cenderung “diberhalakan”.

Yang masih bebas dari pengaruh politik tinggallah aksioma luas sudut segitiga sama sisi, luas lingkaran, atau 2 + 2 dalam sistem desimal adalah 4 (atau yang ini pun masih bisa dinegosiasikan?)

Kembali ke pendidikan budi pekerti menurut pemahaman yang muncul kembali saat ini. Tampaknya, karena ada perasaan “tidak tega” untuk sekaligus menafikan “tema-tema lama”, atau mungkin mencerminkan semakin luasnya spektrum tantangan yang kita hadapi saat ini, atau bisa juga merefleksikan sikap ambivalen kita sendiri, dewasa ini tema pendidikan budi pekerti dimunculkan bersamaan dengan tetap dipertahankannya tema-tema yang berkembang selama ini. Misalnya, pendidikan agama sebagaimana berlaku sebelumnya, pendidikan keimanan dan ketakwaan yang melekat pada materi pendidikan umum (non-pendidikan agama), dan pendidikan kewarganegaraan (baik dalam pengertian civic education maupun citizenship education) yang semakin luas cakupannya dengan dimasukkannya pendidikan hak asasi manusia dan pendidikan internasional.

Perbedaannya adalah tema-tema pendidikan tersebut diminta untuk dimuati secara kental oleh pendidikan budi pekerti, yang berarti bahwa dewasa ini pendidikan budi pekerti itulah yang menjadi primadonanya.

Memang di antara tema-tema pendidikan tersebut tidak ada pertentangan, bahkan saling berhimpitan. Namun peletakan prioritas pada pendidikan budi pekerti sehingga seakan-akan mengatasi yang lainnya mencerminkan terjadinya perubahan orientasi pendidikan nasional pada segi pembinaan sikap, etika, dan moral bangsa yang majemuk ini. Sekarang, marilah kita lihat apa yang nyata tertulis dalam kurikulum per jenjang pendidikan.

Budi pekerti dalam kurikulum SD

Pendidikan budi pekerti pertama kali diperkenalkan dalam Kurikulum 1947 sebagai salah satu dari 16 mata pelajaran di SD yang berdiri sendiri dan terpisah dari Pendidikan Agama. Jumlah jam pelajarannya meningkat seiring dengan meningkatnya kelas, masing-masing untuk kelas I-VI adalah 1-1-2-2-2-3 jam per minggu.

Pendidikan Agama yang diputuskan melalui Ketetapan Bersama Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan dan Menteri Agama malah baru dimulai sejak kelas IV SD reguler masing-masing 2 jam per minggu. Bahkan di SD yang diselenggarakan sore hari, Pendidikan Agama baru diberikan di kelas V-VI masing-masing dengan 2 jam.

Hal ini menunjukkan bahwa pada saat itu, pendidikan budi pekerti mendapatkan perhatian yang lebih besar (artinya dianggap lebih penting) daripada pendidikan agama. Isi pendidikan budi pekerti saat itu lebih banyak berupa sopan santun, etika, sikap hormat dan saling menghargai — dalam arti berdasarkan acuan-acuan nilai budaya — dalam pergaulan sehari-hari dalam masyarakat, keluarga, dan sekolah.

Pada tahun 1964, Kurikulum SD 1947 diubah dengan Kurikulum Sekolah Rakyat (SR). Dalam kurikulum ini, pendidikan budi yang semula terpisah dari pendidikan agama, disatukan dalam mata pelajaran yang disebut “Agama/Budi Pekerti”. Mata pelajaran ini berada dalam kelompok Perkembangan Moral bersama Pendidikan Kemasyarakatan yang merupakan gabungan dari Sejarah, Ilmu Bumi, dan Kewarganegaraan. Jumlah jam pelajarannya lebih sedikit lagi (artinya terjadi penciutan materi) dibandingkan dengan pada kurikulum sebelumnya, masing-masing untuk kelas I-VI adalah 1-2-2-2-2-2 jam pelajaran per minggu. Dalam pola ini, pendidikan budi pekerti “dititipkan” ke dalam pendidikan agama.

Pada pertengahan tahun 1960-an, saat kurikulum 1964 baru berjalan setahun, situasi politik berubah menyusul terjadinya G-30 S/PKI, dan arah pendidikan pun ikut berubah. Namun baru tiga tahun kemudian berhasil disusun kurikulum baru, yaitu Kurikulum 1968.

Salah satu prinsip yang melandasi kurikulum SD ini ialah bahwa dasar pendidikan nasional adalah falsafah Pancasila, tujuan pendidikan nasional adalah membentuk manusia Pancasila sejati, dan isi pendidikan terdiri atas tiga hal, yaitu mempertinggi mental budi pekerti dan memperkuat keyakinan agama, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta membina fisik yang kuat dan sehat.

Karakteristik yang menonjol dalam kurikulum ini ialah munculnya kelompok Pembinaan Jiwa Pancasila sebagai komponen yang dominan yang meliputi Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Bahasa Daerah, dan Pendidikan Olahraga.

alam Kurikulum SD 1968, pendidikan budi pekerti tidak lagi muncul sebagai sebuah nama mata pelajaran, baik berdiri sendiri maupun digandengkan dengan pendidikan agama seperti pada kurikulum sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi pergeseran orientasi pendidikan dengan mengangkat secara kuat Pendidikan Pancasila yang bahkan “membawahi” mata pelajaran Pendidikan Agama. Jumlah jam Pendidikan Agama itu sendiri cukup banyak, yaitu 2-2-3-4-4-4 di kelas I-VI SD, sama seperti Pendidikan Kewarganegaraan. Pergeseran ini sangat dapat dimaklumi, mengingat semangat Orde Baru ketika pertama kali naik ke panggung kekuasaan adalah “melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen”

Ledakan Penduduk Pengaruhi segala Aspek

Pertumbuhan penduduk yang belakangan ini sangat pesat, menimbulkan kekawatiran untuk beberapa tahun kedepan. Dinamika ledakan populasi penduduk menimbulkan berbagai persoalan dalam segala aspek. Tidak hanya dalam aspek ekonomi, namun di dalam aspek sosial budaya serta adat istiadat juga sangat dipengaruhi.

Pertumbuhan yang sangat pesat atau ledakan penduduk, dapat menimbulkan persoalan yang cukup serius dalam aspek ekonomi. Padatnya penduduk di suatu daerah akan menuntut perlunya banyak bahan pangan untuk kebutuhan setiap orang. Sedangkan saat ini banyak lahan-lahan penghasil padi, telah dialih fungsikan menjadi pemukiman warga.

Untuk mengatasi hal ini pemerintah harus lebih menggalakan penciptaan lahan baru untuk daerah yang layak dan potensial. Namun hal ini tidak sepenuhnya dapat diharapkan karena adanya kendala sosial, teknis dan biaya. Solusi lainnya adalah pemanfaatan lahan kering semaksimal mungkin.

Ledakan penduduk dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu, banyaknya orang yang menikah dalam usia muda. Adanya anggapan bahwa banyak anak banyak rezeki. Ledakan penduduk akan menimbulkan dampak seperti, jumlah pengangguran akan semakin meningkat. Kerurangan pangan yang akan menyebabkan kelaparan. Akan semakin sulit memperoleh pendidikan dan kesehatan dengan layak. Dapat menyebabkan tingginya polusi dan kerusakan lingkungan. Serta tingginya angka kemiskinan dan tingkat kejahatan.

Hal ini dapat diatasi dengan program pengendalian penduduk yang disertai program pendukung seperti layanan sosial, kesehatan dan pendidikan harus menjadi prioritas. Melakukan penyuluhan kepada masyarakat untuk melaksanakan program KB. Membuka lapangan kerja melalui industri atau yang lainnya. Sebisa mungkin meningkatkan produksi pangan sesuai kebutuhan penduduk. Dan melakukan transmigrasi.

 

kisah cinta ku

‘Kenapa ya gue gag pernah bisa pacaran lebih dari 3 bulan??’.  ‘ emngnya knpa? Loe putus lagi Vy!’ kata Tivani sahabat Ivy. ‘ya gitu deh..’L . ‘capee deh, blm jga ada 3 bulan loe jadian, uwd main putus aja! Ckckck’. ‘ya mau gimanalagi? Gue ga bisa pacaran jarak jauh’. ‘padahal loe baru pacaran 2x tapi gag ad satupun yang loe pacarin lebih dari 3 bulan, padahal Gilang itu kan anaknya baek, lebih baek dari Alan lagi’. ‘yah mau gimana lagiiiii, gue kan uwd bosen n gag bisa pacaran jarak jauh Ti’. ‘terus gmana karang? Apa loe uwd puna gebetan laen?’. ‘boro-boro punya gebetan, temen cowo aja gue punya dikit di sekolah baru gue’. ‘kalo gitu terima nasib aja!’. ‘iiihhh resek deh…’ :/ sambil melempar bantal di sebelahnya. ‘hahahahaha…. Nyante donk..’:D .

Pagi pun tiba, perlahan Ivy bangun dari tidurnya dn saatnya untuk Ivy memulai hari barunya tanpa Gilang. Membuka jendela dan melihat indahnya mentari pagi, diapun bersiap untuk pergi bersekolah. Continue reading “kisah cinta ku”

Beralih ke Pasar Modrn, Pasar Tradisional Semakin Sedikit

Pasar  tradisional saat ini keberadaannya sudah semakin sedikit. Kurangnya minat masyarakat untuk berbelanja ke pasar tradisional  menjadi salah satu faktor yang menyebabkan berkurangnya keberadaan pasar tradisional.

Kurangnya minat masyarakat untuk berbelanja ke pasar tradisional bukannya tanpa alasan, namun sedikitnya  minat masyarakat ke pasar tradisional dikarenakan kurangnya kebersihan dan kenyamanannya pasar. Pemandangan yang tidak nyaman ini sering kita lihat di pasar-pasar tradisional. Seperti tempat sampah yang terdapat di pasar tradisional, penetaannya belum sepenuhnya maksimal. Jarak anatara pedagang dengan tempat sampah terlalu dekat, sehingga bau dari sampah akan tercium hingga ke tempat pedagang. Continue reading “Beralih ke Pasar Modrn, Pasar Tradisional Semakin Sedikit”

Kami Tidak Akan Terpisahkan

Aku Eka, siswi dari salah satu sekolah menengah atas di kota ku. Hari-hari ku selalu ku lewati dengan semangat karena kedua sahabat ku selalu menemaniku. Sahabat yang selalu menemani ku di saat suka maupun duka. Noni dan Okta, itulah sapaan akrab dari kedua sahabat ku. Kebersamaan kami tidak hanya sebatas teman, tapi sudah seperti saudara kandung.

Di kelas…..

“ Okta,,,,,” teriak ku memanggil Okta

“ pagi-pagi udah teriak-teriak gak jelas, ada apa sich? “ Tanya Okta sembari menaruhnya tas di atas bangku

“ ada berita penting banget nich, “ jawabku sambil mengajaknya duduk

“ serius banget, emang berita apa?? “ Tanya Okta penasaran

“ tadi malam aku ke swalayan sama kakak cowok ku”

“ itu aja penting” jawab Okta memotong pembicaraan ku

“ Okta,, jangan memotong pembicaraan ku, “ sahut ku kesal

“ hehehehe, itu aja marah,, oke dech aku dengerin berita mu, “ sambil mencubit pipi ku

“ begini, waktu aku pergi ke swalayan sama kakak ku, aku melihat Noni sedang memilih baju dengan pacar mu”

“ apa,,,, mungkin kamu salah liat, gak mungkin Noni tega seperti itu, “ jawab Okta kaget

“ aku gak mungkin salah lihat, aku kenal betul dengan wajah pacar mu, “ jawab ku kembali sambil meyakinkan bahwa semua itu benar

“ tidak, ini tidak mungkin, gak mungkin Noni melakukan itu semua, “ kata Okta sambil lari meninggalkan ku

“Okta,, tunggu,, “ teriak ku sambil mengejar

“ kenapa Noni tega melakukan semua itu, padahal dia sudah tau aku ini pacarrya, “ kata Okta sambil meneteskan air mata

“ sudah,, nanti kita selesaikan baik-baik” kata ku sambil mengajaknya ke halaman sekolah

Di halaman sekolah,,

“ haiii sobat,, apa kabar??? “ teriak Noni sambil memeluk ku

“ apa sobat-sobat, mulai sekarang persahabatan kita selesai” kata Okta sambil lari

“ Okta tunggu, “ kata ku sambil memegang tangannya, tapi Okta tetap saja pergi

“ ini semua gara-gara kamu Noni, “ kata ku kesal

“ maksud mu, “ kata Noni bingung

Aku pergi mengejar Okta, tanpa menghiraukan pertanyaan dari Noni. Di kelas kami bertiga hanya diam tak seperti biasa kami selalu bercanda.

Di kelas…

“ kalian kok pada diam, “ Tanya Santi

“ lagi males dan kesal sama orang, “ kata Okta sambil melirik ke Noni

“ ada apa sich,, aku gak mengerti? “ Tanya Noni bingung

“ jangan pura-pura gak tau dech, “ kata Okta

“ maksud mu?? “ sahut Noni

“ sudah-sudah, ” teriak ku sambil berdiri, sehingga semua teman di kelas ku terdiam

“ nanti kita selesaikan setelah pulang dari sekolah, kalian tunggu aku di tempat parkir, ” lanjutku sambil duduk menenangkan diri

Kami pun hanya terdian hingga jam pelajaran selesai

Di tempat parkir…

“ oke sekarang kita selesaikan masalahnya di sini” kata ku sambil memegang tangan kedua sahabatku

“ masalah apa? “ Tanya Noni

“ jangan pura-pura gak tau, “ sahut Okta kesal

“ Okta,, jangan emosi gitu’ “ lanjut ku marah

“ udah Somy, kamu aja yang jelasin semuanya, “ kata Noni penasaran

“ tadi malam aku ke swalayan sama kakak cowok ku,, aku melihat Noni sedang memilih baju dengan pacarnya Okta”  kata ku

“ sudah jelas masalahnya, sekarang ngaku aja, mau mu apa? “ TanyaO kta sambil melihat Noni

“ och itu masalahnya,,” kata Noni dengan tenang

“ iya itu masalahnya, kamu sudah tau itu pacarku tapi kenapa ngajak pacarku jalan, “ Tanya Okta

“ Okta, aku tau kok itu pacarmu tapi iti juga sepupu aku,, aku lupa kasi tau kalian bahwa pacarnya Okta sepupu ku, “ kata Noni

“ jadi, itu cuma sepupi mu,,” Tanya ku

“ iya Somy, jangan berpikiran yang lain dulu, “ sahut Noni

“ och gitu, Noni maaf  ya aku sudah marah-marah tadi, “ kata Okta

“ aku juga minta maaf ke kalian, “ kata ku malu

“ ya udak gak apa, lain kali jangan gitu lagi, “ kata Noni sambil memegang tangan ku

“ tapi, kalian benar-benar gak marah sama kau? “ Tanya ku

“ gak lah Somy,,, “ katanya serentak

“ hehehe, yuk kita pulang, “ ajak ku

“ tunggu,, “ kata Okta

“ ada apa lagi, ada yang kurang jelas? “ Tanya ku

“ bukan gitu, “ jawabnya kembali

“ terus kenapa? “ Tanya Noni

“ sekarang kita masih sahabat kan? “ Tanya Okta sambil melihat kami berdua

“ masih lah,, persahabatan kita tak akan pernah pupus walau nanti kita akan pisah sekolah, apalagi cuma karena salah sangka, “ jelas Noni

“ kita tak akan pernah terpisahkan, “ kata ku sambil mencubit pipi Okta

“ yuk pulang, perut ku lapar banget nich,, “ kata Noni

“ dasar gendut, pikiran mu cuma makan aja, “ kata ku mengejek

Kami pun pulang bersama dengan perasaan lega karena semua masalah sudah terjawab. Persahabatan kami masih berlangsung sampai saat ini, walaupun beda sekolah. Waktu, tempat maupun keadaan tak akan bisa memisahkan kami.

( by: Ni Wayan Somyantari)

————TAMAT————–

Kami Tidak Akan Terpisahkan

Aku Eka, siswi dari salah satu sekolah menengah atas di kota ku. Hari-hari ku selalu ku lewati dengan semangat karena kedua sahabat ku selalu menemaniku. Sahabat yang selalu menemani ku di saat suka maupun duka. Noni dan Okta, itulah sapaan akrab dari kedua sahabat ku. Kebersamaan kami tidak hanya sebatas teman, tapi sudah seperti saudara kandung.
Di kelas…..
“ Okta,,,,,” teriak ku memanggil Okta
“ pagi-pagi udah teriak-teriak gak jelas, ada apa sich? “ Tanya Okta sembari menaruhnya tas di atas bangku
“ ada berita penting banget nich, “ jawabku sambil mengajaknya duduk
“ serius banget, emang berita apa?? “ Tanya Okta penasaran
“ tadi malam aku ke swalayan sama kakak cowok ku”
“ itu aja penting” jawab Okta memotong pembicaraan ku
“ Okta,, jangan memotong pembicaraan ku, “ sahut ku kesal
“ hehehehe, itu aja marah,, oke dech aku dengerin berita mu, “ sambil mencubit pipi ku
“ begini, waktu aku pergi ke swalayan sama kakak ku, aku melihat Noni sedang memilih baju dengan pacar mu”
“ apa,,,, mungkin kamu salah liat, gak mungkin Noni tega seperti itu, “ jawab Okta kaget
“ aku gak mungkin salah lihat, aku kenal betul dengan wajah pacar mu, “ jawab ku kembali sambil meyakinkan bahwa semua itu benar
“ tidak, ini tidak mungkin, gak mungkin Noni melakukan itu semua, “ kata Okta sambil lari meninggalkan ku
“Okta,, tunggu,, “ teriak ku sambil mengejar
“ kenapa Noni tega melakukan semua itu, padahal dia sudah tau aku ini pacarrya, “ kata Okta sambil meneteskan air mata
“ sudah,, nanti kita selesaikan baik-baik” kata ku sambil mengajaknya ke halaman sekolah
Di halaman sekolah,,
“ haiii sobat,, apa kabar??? “ teriak Noni sambil memeluk ku
“ apa sobat-sobat, mulai sekarang persahabatan kita selesai” kata Okta sambil lari
“ Okta tunggu, “ kata ku sambil memegang tangannya, tapi Okta tetap saja pergi
“ ini semua gara-gara kamu Noni, “ kata ku kesal
“ maksud mu, “ kata Noni bingung
Aku pergi mengejar Okta, tanpa menghiraukan pertanyaan dari Noni. Di kelas kami bertiga hanya diam tak seperti biasa kami selalu bercanda.
Di kelas…
“ kalian kok pada diam, “ Tanya Santi
“ lagi males dan kesal sama orang, “ kata Okta sambil melirik ke Noni
“ ada apa sich,, aku gak mengerti? “ Tanya Noni bingung
“ jangan pura-pura gak tau dech, “ kata Okta
“ maksud mu?? “ sahut Noni
“ sudah-sudah, ” teriak ku sambil berdiri, sehingga semua teman di kelas ku terdiam
“ nanti kita selesaikan setelah pulang dari sekolah, kalian tunggu aku di tempat parkir, ” lanjutku sambil duduk menenangkan diri
Kami pun hanya terdian hingga jam pelajaran selesai
Di tempat parkir…
“ oke sekarang kita selesaikan masalahnya di sini” kata ku sambil memegang tangan kedua sahabatku
“ masalah apa? “ Tanya Noni
“ jangan pura-pura gak tau, “ sahut Okta kesal
“ Okta,, jangan emosi gitu’ “ lanjut ku marah
“ udah Somy, kamu aja yang jelasin semuanya, “ kata Noni penasaran
“ tadi malam aku ke swalayan sama kakak cowok ku,, aku melihat Noni sedang memilih baju dengan pacarnya Okta” kata ku
“ sudah jelas masalahnya, sekarang ngaku aja, mau mu apa? “ TanyaO kta sambil melihat Noni
“ och itu masalahnya,,” kata Noni dengan tenang
“ iya itu masalahnya, kamu sudah tau itu pacarku tapi kenapa ngajak pacarku jalan, “ Tanya Okta
“ Okta, aku tau kok itu pacarmu tapi iti juga sepupu aku,, aku lupa kasi tau kalian bahwa pacarnya Okta sepupu ku, “ kata Noni
“ jadi, itu cuma sepupi mu,,” Tanya ku
“ iya Somy, jangan berpikiran yang lain dulu, “ sahut Noni
“ och gitu, Noni maaf ya aku sudah marah-marah tadi, “ kata Okta
“ aku juga minta maaf ke kalian, “ kata ku malu
“ ya udak gak apa, lain kali jangan gitu lagi, “ kata Noni sambil memegang tangan ku
“ tapi, kalian benar-benar gak marah sama kau? “ Tanya ku
“ gak lah Somy,,, “ katanya serentak
“ hehehe, yuk kita pulang, “ ajak ku
“ tunggu,, “ kata Okta
“ ada apa lagi, ada yang kurang jelas? “ Tanya ku
“ bukan gitu, “ jawabnya kembali
“ terus kenapa? “ Tanya Noni
“ sekarang kita masih sahabat kan? “ Tanya Okta sambil melihat kami berdua
“ masih lah,, persahabatan kita tak akan pernah pupus walau nanti kita akan pisah sekolah, apalagi cuma karena salah sangka, “ jelas Noni
“ kita tak akan pernah terpisahkan, “ kata ku sambil mencubit pipi Okta
“ yuk pulang, perut ku lapar banget nich,, “ kata Noni
“ dasar gendut, pikiran mu cuma makan aja, “ kata ku mengejek
Kami pun pulang bersama dengan perasaan lega karena semua masalah sudah terjawab. Persahabatan kami masih berlangsung sampai saat ini, walaupun beda sekolah. Waktu, tempat maupun keadaan tak akan bisa memisahkan kami.
( by: Ni Wayan Somyantari)
————TAMAT————–